Jumat, 04 November 2011

Iman Kepada Qada Dan Qadar

BAB I
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
Beriman kepada qada dan qadar merupakan salah satu diantara rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim. Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam rukun iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi. Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Ibnu Abbas pernah berkata, “ Qadar adalah nidzam (aturan) tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar, maka tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya ” (Majmu’ Fataawa Syeikh Al-Islam). Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Mempelajari atau dengan memahami materi tentang iman kepada qada dan qadar ini, masyarakat dapat memperoleh banyak manfaat. Salah satu diantara sekian banyak manfaat mempelajari iman kepada qada dan qadar adalah memperkuat iman dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Bukan sebaliknya, mempelajari iman kepada qada dan qadar malah membuat seseorang menjadi putus asa dan patah semangat. Setiap manusia tidak ada yang mengetahui qada dan qadar Allah yang akan terjadi pada masing-masing individu, oleh karena itulah kita sebagai muslim wajib mempelajari iman kepada qada dan qadar. Alasan tersebutlah yang membuat penyusun melatar-belakangi pembuatan makalah yang berjudul “ Iman Kepada Qada Dan Qadar “.


1.2 Tujuan Penulisan
Mempelajari iman kepada qada dan qadar banyak memiliki manfaat dan tujuan terhadap seorang individu yang sungguh-sungguh mempelajarinya. Beberapa tujuan yang akan dibahas kenapa seringnya terjadi konflik sosial di daerah-daerah yang ada di Indonesia adalah:
1.    Untuk memperkuat iman dan taqwa seseorang.
2.    Untuk menumbuhkan keteguhan hati seseorang.
3.    Untuk menumbuhkan kesabaran seseorang.
4.    Untuk mendorong sesorang untuk bertawakal dan berdo’a.
5.    Untuk membuat sesorang semangat dan tidak mudah putus asa.

1.3 Sasaran
Iman kepada qada dan qadar memiliki banyak sekali keterkaitan atau hubungan dalam kehidupan manusia. Qada dan qadar membuat manusia semakin sadar betapa pentingnya atau adanya kekuasaan Allah SWT terhadap kehendak nasib seseorang. Maka sasaran dari mempelajari iman kepada qada dan qadar adalah sikap manusia yang akan mempengaruhi qada dan qadar manusia itu sendiri.





 
BAB II
PEMBAHASAN



2.1  Pengertian Iman Kepada Qada dan Qadar
Menurut bahasa, qada berarti ketentuan atau ketetapan. Menurut istilah, qada adalah ketentuan Allah SWT, sejak zaman azali yang belum diketahui oleh mahluk dan belum terlaksana. Qadar adalah ketetapan atau ketentuan Allah SWT, yang telah ditentukan dantelah terlaksana. Qadar sering disebut dengan takdir.
Beriman kepada qada dan qadar adalah menyakini dengan sepenuh hati adanya ketentuan Allah SWT, yang berlaku bagi semua mahluk hidup. Semua itu menjadi bukti kebesaran dan kekuasan Allah SWT. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dalil tersebut seperti tertulis dalam Al Quran (QS. Al Hadid/57:22) yang berbunyi.
“ Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitabm (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah ”.

Dalam Al Quran (QS.An-Nisa/4:78) yang berbunyi.
“ Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam bentengyang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan , mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah”, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan “Ini dari Engkau (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah. “ Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)”.
      
       Maksud dari dua ayat tersebut diatas adalah bahwa apapun yang terjadi di alam dunia fana ini dan menimpa diri kita, semua itu atas kehendak Allah SWT. Dia ingin menguji sampai sejauh mana keteguhan iman kita. Allah SWT adalah Zat Yang Maha Kuasa untuk memberlakukan qada dan qadar. Sebagai seorang muslim, kita harus menyakini semua itu. Apa pun yang terjadi pada kita, baik berupa kesenangan maupun kesedihan, kita kembalikan pada Allah SWT. Dalam kaitannya dengan qada, qadar, dan ikhtiar, takdir dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.    Takdir Mualaq
2.    Takdir Mubram.

       Takdir mualaq adalah takdir yang erat hubungannya dengan ikhtiar manusia. Misalnya keadaan manusia semua melarat menjadi kecukupan karena usahanya, semula belum mengerti menjadi mengerti karena berusaha belajar, dan sebelumnya sakit menjadi sehat karena berusaha berobat. Dalil tersebut seperti dalam Al Quran (QS Ar Ra’d/13:11) yang berbunyi.
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri sendiri...”

       Takdir mubram adalah takdir yang tidak dapat diusahakan oleh manusia. Misalnya, kematian seseorang yang tidak dapat dimajukan atau dimundurkan sesaat pun. Dalil tersebut seperti dalam Al Quran (QS. Yunus/10:49) yang berbunyi.
“...Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan dan percepatan sesaat pun”.

       Segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini sudah ditentukkan terlebih dahulu oleh Allah SWT. Banyak yang kita lihat tentang peristiwa-peristiwa alam, seperti contoh qada dan qadar yang terjadi ditanah air Indonesia adalah ketika pada bulan Desember 2004 diwilayah Provinsi Aceh terjadi bencana Tsunami. Banyak orang yang tidak mengira akan terjadi peristiwa berikut. Para pelancong yang sedang bermain disekitar pantai, dengan tiba-tiba gulungan ombak tsunami menerjang mereka sehingga banyak orang yang meninggal dunia seketika. Sebaliknya, ada anak kecil yang selamat dari terjangan badai tsunami. Secara nalar, anak kecil itu tidak mungkin selamat dari gulungan badai tsunami.
       Fulan berencana menikah pada tanggal 20 Desember 2006. Semua persiapan telah siap dilakukan dengan maksimal. Undangan pun telah tersebar semua, ketika hari pernikahan tersebut tinggal sepekan, calon pengantin wanita meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Rencana fulan untuk menikah pun gagal terlaksana.
       Dua contoh tersebut sebagai bukti bahwa manusi hanya berencana, namun keputusan tetap berada di qada dan qadar Allah SWT. Semoga dengan contoh di atas dapat menadikan diri kita makin iman kepada qada dan qadar Allah SWT.

2.2    Hubungan antara Qada dan Qadar
Qadar tidak akan terjadi jika tidak ada qada. Dengan demikian, semua yang terjadi di alam semesta ini adalah ketentuan Allah SWT terlebih dahulu yaitu Lauh Mahfuz. Setelah mengerti pengertian qada dan qadar serta contoh kisahnya maka bagaimana hubungan antara qada dan qadar-Nya. Berikut adalah beberapa hubungan antara qada dan qadar Allah SWT.
  1. Qada merupakan perencanaan dari qadar, artinya segala sesuatu yang akan terjadi itu didahului dengan perencanaan terlebih dahulu. Perencanaan itu disebut qada, sedangkan pelaksanaannya adalah qadar.
  2. Qadar tidak akan terjadi jika tidak ada qada, artinya tidak ada pelaksanaan jika perenacanaan atau program tidak ada.
  3. Qadar merupakan perwujudan dari qada, artinya pelaksanaan sesuatu itu merupakan tindak lanjut dari perencanaan.

2.3 Hikmah Iman Kepada Qada dan Qadar
Setiap insan yang beriman wajib beriman kepada qada dan qadar Allah SWT. Beriman kepada qada dan qadar banyak mengandung hikmah. Berikut adalah masing-masing hikmah dari iman kepada qada dan qadar.
  1. Memperkuat iman dan taqwa serta menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi itu telah ditentukkan oleh Allah SWT.
  2. Menumbuhkan keteguhan hati dan kesabaran karena musibah atau rintangan yang kita hadapi merupakan qada dan qadar Allah SWT.
  3. Menumbuhkan keikhlasan dalam menerima segala ketentuan Allah SWT.
  4. Mendorong untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jika usahanya dapat berhasilkarena menyadari bahwa keberhasilannya itu adalah merupakan karunia dari Allah SWT.
  5. Mendorong sikap tegar, sabar, dan tidak putus asa jika usahanya gagal karena kegagalan itu sebenarnya sudah ditulis oleh Allah SWT.
  6. Mendorong kita selalu berusaha maksimal untuk menggapai kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.
  7. Mendorong manusia untuk bertawakal dan berdo’a setelah berikhtiar karena tidak dibenarkan kita menunggu nasib atau pasrah pada takdir.
 





BAB III
PENUTUP



3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa iman kepada qada dan qadar memiliki dampak yang positif terhadap prilaku manusia yang dia buat sendiri. Berikut beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan iman kepada qada dan qadar:
  1. Menguatnya keimanan dan ketaqwaan seseorang karena manusia semakin menyadari bahwa segala sesuatu itu telah ditentukkan oleh Allah SWT.
  2. Semakin bertumbuhnya keteguhan hati dan kesabaran terhadap musibah karena manusia percaya itu ujian dari qada dan qadar Allah SWT yang akan meninggikan derajatnya.
  3. Semakin membuat manusia bertambah ikhlas, karena manusia tersebut percaya iman qada dan qadar akan mendapatkan gantinya yang lebih baik.
  4. Selalu membuat manusia bersyukur karena takdir yang baik yang manusia tersebut dapatkan.
  5. Membuat manusia semakin semangat dan tidak mudah putus asa, karena kegagalan telah menjadi takdirnya dan itu justru dijadikannya motivasi untuk bangkit dari keterpurukannya.
  6. Supaya tidak kembali gagal untuk yang kedua kalinya, membuat manusia itu selalu berusaha maksimal terhadap semua urusannya.
  7. Terakhir adalah kesimpulan mempelajari iman kepada qada dan qadar membuat manusia semakin bertawakal dan berdo’a atau berserah diri atas semua karunia yang telah diberikan-Nya.





DAFTAR PUSTAKA



Soepardjo. 2007. Mutiara Akhlak daam Pendidikan Agama Islam. Solo: Tiga Serangkai.
Derajat, Zakiyah. 1993. Materi Pokok Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Universitas Terbuka.
http://id.wikipedia.org/wiki/Qada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar